Whoosh Tabrak Biawak Menyebabkan Keterlambatan Perjalanan

SERBA BANDUNG – Insiden biawak yang tertabrak kereta cepat Whoosh di titik KM 86+200 pada Kamis lalu, sebabkan keterlambatan perjalanan.
Perjalanan Whoosh G1036 relasi Tegalluar Summarecon – Halim mengalami keterlambatan sekitar 40 menit akibat menabrak seekor hewan di KM 86+200 antara Stasiun Padalarang dan Karawang pada pukul 14.32.
Sesaat setelah kejadian, dengan alasan keselamatan perjalanan, petugas segera turun untuk melakukan pemeriksaan dan menemukan bahwa hewan yang tertabrak adalah seekor biawak.
Karena benturan terjadi dalam kecepatan tinggi, tim teknis melakukan pemeriksaan menyeluruh guna memastikan tidak ada komponen rangka bawah kereta yang terdampak.
Proses pembersihan jalur dari bangkai hewan juga membutuhkan waktu tambahan sebelum perjalanan dapat dilanjutkan untuk memastikan kondisi prasarana sudah kembali steril dari benda asing. Setelah seluruh prosedur dinyatakan aman, kereta kembali melanjutkan perjalanan seperti biasa.
Baca juga: Kamar Dagang Malaysia Dukung Pembukaan Kembali Bandara Husein
Sepanjang semester I tahun 2025, telah terjadi 10 insiden biawak tertabrak kereta Whoosh, dan seluruhnya terjadi di jalur antara Padalarang dan Karawang.
Jalur ini melewati kawasan dengan tutupan vegetasi yang cukup lebat, seperti semak belukar, hutan kecil, dan aliran air terbuka, yang menjadi habitat alami bagi satwa seperti biawak.
Sebagai bentuk mitigasi, KCIC telah memasang pagar pengaman di sepanjang lintasan dan terus memperkecil celah-celah pagar untuk mencegah hewan liar masuk ke jalur kereta.
Selain itu, KCIC juga rutin melakukan patroli serta membersihkan area semak belukar di sekitar jalur sebagai langkah meminimalisir potensi gangguan akibat hewan liar.
Baca juga: Komunitas Free Runners yang Bagikan Bir di Ajang Pocari Sweat Run, Jalani Sanksi Sosial!
Menanggapi sorotan pakar lingkungan terkait insiden tersebut, KCIC sangat mengapresiasi masukan dari akademisi dan pemerhati lingkungan sebagai bagian dari pengingat bahwa kelestarian lingkungan harus tetap menjadi perhatian, agar habitat satwa liar di sekitar jalur tetap terjaga.
“Beragam upaya telah dan terus dilakukan KCIC untuk meminimalkan potensi gangguan dari hewan liar, antara lain pemasangan pagar pembatas di titik-titik rawan, pembersihan area jalur secara rutin, patroli berkala, serta evaluasi sistem mitigasi secara berkelanjutan,” kata General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa.
Saat ini KCIC telah mengoperasikan lebih dari 1.800 unit CCTV dan mengerahkan lebih dari 650 petugas pengamanan dan penjaga aset yang bekerja sama dengan polsek setempat di sepanjang jalur untuk memastikan keamanan dan mencegah masuknya satwa ke lintasan kereta.
Ketika CCTV mendeteksi keberadaan hewan di sekitar jalur, petugas di lapangan akan segera melakukan proses pengamanan dengan mengevakuasi dan mengembalikan hewan tersebut ke area luar jalur agar bisa kembali ke habitatnya.***