Konflik Syiah dan Sunni Bermula dari Perpecahan Politik Pasca Wafatnya Rasulullah SAW

SERBA BANDUNG – Iran adalah negara dengan populasi Syiah terbesar di dunia, di mana sekitar 90–95% penduduknya menganut mazhab Syiah Dua Belas Imam (Itsna ‘Asyariyah).

Syiah Itsna Asyariyah adalah aliran terbesar dalam mazhab Syiah yang meyakini adanya 12 Imam maksum dari keturunan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra sebagai pemimpin spiritual dan politik setelah Nabi Muhammad SAW.

Aliran yang juga dikenal sebagai Imamiyah atau Ja’fariyah ini memiliki pokok ajaran (ushuluddin) yang mencakup tauhid, nubuwwah, ma’ad (hari kebangkitan), keadilan Allah (‘adl), dan imamah.

Sejak revolusi 1979, Syiah menjadi ideologi resmi negara dan basis sistem politik wilayat al-faqih (pemerintahan ulama), dengan pusat keagamaan utama di kota Qom dan Mashhad.

Negara dengan populasi mayoritas Syiah yang signifikan meliputi Iran (90-95%), Azerbaijan (65-75%), Irak (65-70%), dan Bahrain (sekitar 60%). Komunitas Syiah yang besar juga terdapat di Lebanon, Yaman, dan Kuwait. 

Selain Iran, tidak ada negara lain yang secara eksplisit menjadikan Syiah sebagai satu-satunya madzhab resmi negara, meskipun terdapat negara dengan populasi Syiah yang dominan seperti Irak dan Bahrain.

Sedangkan, bentuk negara Iran adalah Republik Islam (negara kesatuan) yang menggabungkan unsur teokrasi dengan sistem pemerintahan hibrida, berdasarkan prinsip Velayat-e Faqih (perwalian ahli hukum Islam). 

Baca juga: Presiden Prabowo Mengecam Keras Tindakan Keji yang Menyebabkan Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon

Sistem politik ini dipimpin oleh Pemimpin Tertinggi (Rahbar) yang memiliki otoritas tertinggi, didampingi presiden yang dipilih rakyat, dengan hukum syariah Syiah sebagai dasar konstitusi sejak Revolusi 1979.

Mazhab Sunni

Sunni, atau Ahlus Sunnah wal Jamaah (ASWAJA), adalah aliran terbesar dalam Islam (sekitar 85-90% Muslim dunia) yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, serta merujuk pada pemahaman para sahabat. 

Mereka menekankan ortodoksi berdasarkan ijmak (konsensus) dan hadis, dengan empat mazhab fikih utama (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali).

Di Indonesia, mayoritas Muslim menganut paham Sunni, yang menekankan keseimbangan antara wahyu dan tradisi, seringkali berafiliasi dengan organisasi seperti Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah yang secara teologis Sunni.

Karakteristik Sunni menekankan pentingnya sunnah (catatan ucapan/perbuatan Nabi) sebagai sumber hukum utama setelah Al-Qur’an, yang berbeda dengan pendekatan Syiah yang lebih bergantung pada bimbingan imam-imam spiritual. 

Mayoritas negara dengan penduduk Muslim di dunia menganut paham Sunni (Ahlussunnah Wal Jamaah), mencakup sekitar 90% dari total umat Muslim global. Negara-negara tersebut tersebar luas, mulai dari Asia Tenggara hingga Timur Tengah dan Afrika.

Berikut adalah beberapa negara dengan mayoritas penduduk Sunni:

Indonesia, Arab Saudi, Turki, Pakistan, Mesir, Bangladesh, Nigeria dan negara-negara Arab lainnya seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Yordania, Yaman, Sudan, Suriah, Palestina, dan Libya.

Negara-Negara Teluk secara geografis, wilayah ini mencakup Iran di utara dan negara-negara Arab (Bahrain, Irak, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, UEA) di selatan, yang sering kali tegang karena isu keamanan dan geopolitik.

Baca juga: Amerika Serikat akan Lakukan Serangan Darat, Iran: Selamat Datang di Neraka

Adu domba antara Sunni dan Syiah merupakan isu kompleks yang seringkali berakar pada kepentingan politik dan kekuasaan, bukan sekadar perbedaan ajaran agama.

Konflik ini sering dipicu oleh propaganda, sentimen anti-Syiah yang akut, serta campur tangan pihak luar (seperti AS atau Zionis) untuk memecah belah umat Islam.

Akar Sejarah dan Politik

Konflik ini bermula dari perpecahan politik pasca wafatnya Rasulullah SAW pada tahun 632 M terkait suksesi kepemimpinan (kekhalifahan).

Sunni menekankan otoritas komunitas, sementara Syiah meyakini Ali bin Abi Thalib sebagai pengganti yang ditunjuk.

Banyak pihak, termasuk Amerika Serikat, dituduh menggunakan taktik adu domba untuk memecah belah persatuan dunia Islam dan negara-negara Arab. Isu-isu yang memicu permusuhan ini seringkali sengaja dipicu untuk kepentingan geopolitik.

Tokoh-tokoh seperti di Bahrain dan Iran menyerukan untuk tidak terjebak dalam adu domba dan menekankan pentingnya persatuan umat.

Meski ada perbedaan, ulama dari Arab Saudi pernah mengeluarkan fatwa yang membolehkan shalat di masjid golongan Syiah.

Konflik Sunni-Syiah seringkali merupakan alat untuk memperlemah umat Islam, terutama ketika sentimen ini digunakan untuk memicu perseteruan di Timur Tengah.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *