Paes Ingin Menorehkan Sejarah Mengangkat Trofi di Hadapan Jutaan Pendukung Garuda

SERBA BANDUNG – Kiper Timnas Indonesia, Maarten Paes mengungkapkan targetnya menjuarai FIFA ASEAN Cup demi membalas dukungan luar biasa para suporter dan membangun kepercayaan diri menuju Piala Asia.
Di antara gemuruh stadion dan nyanyian yang mengalun dari tribun, Maarten Paes menemukan sesuatu yang melampaui sepak bola, yakni ikatan emosional dengan negera Indonesia yang kini ia sebut sebagai rumah.
Perjalanan panjang dari Belanda, panggung Major League Soccer (MLS), hingga Ajax membawa satu mimpi yang semakin kuat bersama Timnas Indonesia, ialah menorehkan sejarah dan mengangkat trofi di hadapan jutaan pendukung Garuda.
“Semua yang terjadi dalam karir saya terjadi karena suatu alasan. Saya banyak berkembang dan semakin dewasa karenanya,” kata Paes dilansir dari laman FIFA .
Seiring bertambahnya usia, prioritas penjaga gawang kelahiran Belanda pun berubah. Baginya, kemenangan bersama tim kini jauh lebih berarti daripada pencapaian pribadi.
Baca juga: John Herdman Memanggil 23 Pemain Timnas Indonesia untuk FIFA ASEAN Cup 2026
“Ego saya tidak lagi terlalu penting. Saya hanya ingin memberikan kontribusi sebesar mungkin bagi tim. Tujuan utama saya adalah membangun tim pemenang, baik bersama tim nasional maupun klub,” ujarnya.
Salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan Paes terjadi ketika ia menjalani debut bersama Indonesia pada tahun 2024. Menghadapi Arab Saudi dalam laga Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 di Jeddah, ia merasakan pengalaman emosional saat pertama kali mengenakan lambang Garuda dan mendengar lagu kebangsaan.
“Momen pertama yang membuat saya merinding adalah lagu kebangsaan,” kenangnya.
Selain pengalaman tersebut, Paes juga terkesan dengan kehadiran suporter Indonesia yang memenuhi stadion. Apalagi menurut pengamatannya, jumlah pendukung Garuda saat itu melampaui pendukung tuan rumah.
Ketika Sandy Walsh mencetak gol, kegembiraan para pendukung Indonesia semakin membekas dalam ingatannya. Meski Arab Saudi berhasil menyamakan kedudukan melalui gol yang berubah arah setelah membentur pemain lain, Paes tampil gemilang dengan menggagalkan tendangan penalti pada babak kedua.
Keesokan harinya, sang penjaga gawang terbang ke Jakarta dan kembali menyaksikan antusiasme luar biasa para suporter. Ia kemudian tampil sebagai Man of the Match ketika Indonesia bermain imbang tanpa gol melawan Australia.
“Itu adalah pekan impian saya,” ungkap Paes.
Pengalaman tersebut memiliki makna lebih dalam bagi pemain Ajax itu. Beberapa bulan sebelumnya, ia kehilangan neneknya, sosok yang memperkenalkannya kepada budaya Indonesia, termasuk lagu-lagu seperti “Tanah Airku”.
Baca juga: Trofi FIFA ASEAN Cup 2026 Resmi Dipamerkan, Ada Pesan Apa dari Presiden FIFA?
“Setiap kali mendengar lagu itu, aku teringat kenangan bersama nenekku,” tuturnya.

Kini, Paes menantikan kembali kesempatan bermain di hadapan publik Indonesia dalam FIFA ASEAN Cup.
Ia berharap stadion dipenuhi suporter yang mampu menghadirkan atmosfer istimewa, seperti yang pernah ia rasakan dalam sejumlah pertandingan kandang Garuda.
“Ketika mempertimbangkan pertandingan kandang melawan Australia, Bahrain, Jepang, dan Arab Saudi, kami telah menorehkan sejarah. Mengenang momen-momen itu selalu membuat saya merinding,” kata Paes.
Keberadaan FIFA ASEAN Cup, menurut Paes, akan menjadi penting bagi perkembangan sepak bola Asia Tenggara. Kesempatan memanggil pemain yang berkarier di Eropa, Amerika, dan berbagai belahan dunia yang dinilainya dapat meningkatkan kualitas persaingan di suatu wilayah.
“Ini perkembangan yang baik, bukan hanya untuk Indonesia, tapi juga seluruh negara yang berpartisipasi. Hal ini akan meningkatkan level sepak bola Asia Tenggara,” jelasnya.
Bagi pemain berusia 28 tahun itu, persaingan justru menjadi dorongan untuk terus berkembang. Ia menegaskan bahwa dengan Audero tetap dilandasi oleh dukungan dan kebersamaan. Siapa pun yang dipercaya pelatih John Herdman untuk bermain, kepentingan Indonesia tetap menjadi prioritas utama.
“Semakin bertambahnya usia, semakin penting bagi saya bahwa Garuda menang, bukan saya atau Emil,” tegasnya.
“Di Indonesia, kami mengatakan bahwa kami harus mengorbankan ego demi Garuda. Dan itulah yang kami lakukan,” tuturnya.
Prinsip itu pula yang mendasari ambisinya di Piala ASEAN, di mana Indonesia menjadi tuan rumah Divisi 1 dan tergabung di fase grup dengan Malaysia, Singapura dan Bangladesh.
Paes ingin mempersembahkan gelar juara kepada masyarakat Indonesia sebagai balasan atas dukungan yang telah mereka berikan selama beberapa tahun terakhir.
“Bagi saya, tujuannya adalah memenangkan trofi. Saya ingin sekali meraih gelar di hadapan pendukungnya sendiri, untuk membalas seluruh dukungan mereka selama beberapa tahun terakhir,” ungkapnya.
Paes berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi bekal kepercayaan diri bagi Indonesia menjelang Piala Asia di Arab Saudi pada Januari mendatang.
“Tujuan pertama adalah memenangkan trofi di sini dan membangun perasaan yang sangat baik menuju Piala Asia,” pungkasnya.***
