Kevin Diks: Malam yang Belum Pernah Saya Alami!

SERBA BANDUNG – Malam penuh drama dilalui Kevin Diks dan Emil Audero dalam perjuangan skuad Garuda mengamankan tiket ke final Piala ASEAN FIFA.

Sembilan gol biasanya sudah cukup untuk menggambarkan sebuah kemenangan besar. Namun, bagi Indonesia, malam itu bukan sekadar tentang meraih kemenangan. Mereka harus terus berlari, menyerang, dan mencetak gol karena satu kemenangan saja belum cukup untuk membawa mereka ke final Piala ASEAN FIFA.

Di sisi lain, ada pertandingan yang berlangsung bersamaan di Bandung. Malaysia yang memasuki matchday terakhir fase grup dengan jumlah poin yang sama, berada di atas Indonesia berkat keunggulan selisih gol dan produktivitas. Oleh karena itu, skuad Garuda tahu bahwa mereka tidak hanya bertanding melawan Bangladesh. Mereka juga berpacu dengan hasil pertandingan Malaysia melawan Singapura.

Ketika anak asuh John Herdman masih berusaha menambah gol di Jakarta setelah unggul 6-1 pada babak pertama, Malaysia terus menambah keunggulan di Stadion Si Jalak Harupat. Dua gol pada paruh pertama bertambah menjadi tiga selepas turun minum, kemudian empat, lima, dan akhirnya gol keenam pada menit ke-90+2.

Pertandingan yang akhirnya berakhir 9-2 itu berkembang menjadi salah satu laga paling dramatis dalam perjalanan Indonesia di turnamen ini. Ketika kemenangan besar sudah berada di depan mata, tuntutan untuk terus menyerang belum juga berakhir.

Bagi Kevin Diks, situasi tersebut menghadirkan pengalaman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

“Bagi para penonton di rumah maupun yang menyaksikan langsung di stadion, ini adalah pertandingan yang gila, dan hal yang sama dirasakan oleh kami di lapangan. Saya belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya—ketika kita mencetak begitu banyak gol, tetapi ternyata masih belum cukup. Setiap kali kami mencetak gol, selalu ada instruksi ‘satu gol lagi, satu gol lagi’. Kami sempat berpikir, ‘Masa skor 7-2 masih belum cukup?’ Tapi ya, terus-menerus dikatakan ‘satu lagi, satu lagi, satu lagi’” ungkap bek Borussia Monchengladbach itu dilansir dari laman resmi FIFA .

Baca juga: John Herdman: Bagaimana Mungkin Malaysia Bantai Singapura 6-0!

Kalimat tersebut menjadi gambaran paling sederhana tentang tekanan yang dirasakan Indonesia. Mereka tidak punya ruang untuk berhenti. Selama pertandingan di Bandung terus menghasilkan gol untuk Malaysia, pekerjaan Indonesia di Jakarta juga belum selesai.

Kebutuhan tersebut bahkan mengubah peran para pemain di lapangan. Ketika pertandingan memasuki menit-menit akhir, garis pertahanan Indonesia semakin tinggi. Diks ikut bergerak jauh ke depan, sementara Emil Audero pun meninggalkan gawangnya untuk membantu serangan. Keduanya juga mengambil risiko demi mencari gol tambahan.

“Ketika Anda harus bermain dengan 10 pemain selama 60 menit, dan sekarang harus bertarung mengejar selisih gol, saya sangat bangga dengan perjuangan anak-anak,” ujar Audero./Foto: @sportografic

Menurut Audero, keputusan tersebut merupakan konsekuensi yang harus diterima.

“Pertandingan jenis ini sangat sulit untuk dinilai secara mentah. Tentu saja tim saya butuh mencetak gol, sehingga keseimbangan tim condong penuh ke depan. Akibatnya, dalam beberapa momen kami tidak bertahan dengan sangat baik karena fokus utama kami adalah menyerang. Jadi wajar jika Anda menekan ke depan dan meninggalkan ruang di belakang. Namun tidak masalah, kami menerima risiko itu, dan yang terpenting kami cukup tangguh untuk mencetak gol lebih banyak dari Malaysia,” ungkap kiper Rayo Vallecano itu.

Risiko tersebut terlihat ketika Bangladesh mencetak gol keduanya di pengujung laga. Namun, Indonesia tidak berhenti. Mereka terus menyerang karena tahu bahwa selisih gol adalah bagian dari pertarungan untuk mencapai final.

“Saya kira begitu, ya. Ini adalah proses yang sedang kami jalani. Kami telah bekerja bersama Pelatih John Herdman, bahwa kami harus selalu siap bangkit dan berharap dalam situasi kapan saja. Saya pikir ini adalah momen seperti itu. Ketika Anda harus bermain dengan 10 pemain selama 60 menit, dan sekarang harus bertarung mengejar selisih gol, saya sangat bangga dengan perjuangan anak-anak,” terangnya.

Baca juga: Link Live Streaming Indonesia Vs Bangladesh, Laga Penentuan menuju Final FIFA ASEAN Cup 2026

Perjuangan itu datang hanya beberapa hari setelah Indonesia bermain dengan 10 pemain dalam laga melawan Malaysia. Pertandingan tersebut berakhir tanpa gol, membuat kedua tim tetap berada di puncak klasemen dan membawa persaingan hingga matchday terakhir.

Beban tersebut bahkan terasa secara fisik bagi Diks. “Ya, 30 menit terakhir benar-benar perjuangan berat bagi saya. Namun saya mencoba bertahan dan berjuang demi semua orang di tim, bukan hanya untuk diri saya sendiri,” lanjutnya.

Pada akhirnya, Indonesia mendapatkan jawaban yang mereka butuhkan. Sembilan gol membawa mereka ke puncak klasemen dengan tujuh poin, unggul atas Malaysia dalam produktivitas gol. Malaysia memang menang 6-0, namun hasil tersebut tidak cukup untuk membawa mereka ke final.

Setelah malam ketika satu gol terasa belum cukup, Indonesia kini hanya membutuhkan satu pertandingan lagi untuk mengakhiri perjalanan ini dengan trofi. Tantangan berikutnya adalah Thailand yang menunggu di final.

Audero tahu kesempatan tersebut harus menghadapi dengan fokus, tetapi tanpa tekanan berlebihan.

“Ya, kami sangat antusias. Namun, Anda tahu, ini tidak ada bedanya dengan apa yang sudah kami lakukan sejauh ini. Maksud saya, ini adalah sebuah pertandingan biasa seperti laga-laga lainnya. Artinya kami harus bersiap dengan tingkat fokus dan perhatian yang tinggi, tetapi di saat yang sama kami tidak perlu memberi tekanan berlebih pada diri sendiri. Karena begitulah sepak bola. Pertama-tama kami harus menikmatinya. Jika kami bisa menikmatinya, seperti malam ini, kami bisa menunjukkan kualitas kami yang sebenarnya,” pungkasnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *