Longsor Cisarua: 27 Korban Meninggal Dunia telah Teridentifikasi

SERBA BANDUNG – Hingga hari keempat pencarian korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Selasa (27/1/2026), pukul 17.20 WIB, sebanyak 27 korban meninggal dunia telah teridentifikasi. 33 jiwa masih dicari dalam timbunan longsor oleh tim SAR gabungan.
Kepala Kantor SAR Bandung Ade Dian mengatakan, proses pencarian korban pada Selasa (27/1/2026), membuah hasil penemuan korban meninggal dunia sebanyak delapan kantong jenazah. Kedelapan kantong jenazah itu telah diserahkan kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jabar untuk diidentifikasi.
Dengan demikian, sejak hari pertama longsor pada Sabtu (24/1/2026) hingga Selasa (27/1/2026), total 47 kantong jenazah telah diserahkan kepada tim DVI Polda Jabar.
Tim SAR gabungan akan terus melaksanakan pencarian korban di Kecamatan Cisarua selama 14 hari sejak longsor terjadi.
Untuk memastikan anggota tim SAR dalam kondisi sehat, tim kesehatan dari pemerintah daerah, kementerian maupun relawan telah memberikan vaksin, vitamin dan obat-obatan.
Baca juga: Masjid Raya Bandung Tak Lagi Dibiayai Pemda Prov Jabar
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan skema penanganan cepat bagi warga terdampak longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), agar tidak terlalu lama bertahan di pengungsian.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan, dalam 1–2 hari ke depan para pengungsi sudah memiliki kepastian tempat tinggal sementara, baik di hunian sementara (huntara) maupun di rumah kerabat dengan dukungan dana tunggu hunian.
“Kami tidak ingin masyarakat terlalu lama berada di pengungsian. Dalam satu sampai dua hari ini mereka akan dipindahkan,” ujarnya saat meninjau lokasi bencana, Rabu 28 Januari 2026.
Berdasarkan data posko, hingga Selasa (26/1/2026) pukul 19.30 WIB, sebanyak 564 jiwa dari 186 KK masih mengungsi di Aula dan GOR Desa Pasirlangu.
Bagi warga yang memilih tinggal di rumah keluarga, BNPB menyiapkan dana tunggu hunian sebesar Rp600 ribu per KK per bulan hingga rumah permanen selesai dibangun. Sementara bagi yang tidak memiliki alternatif tempat tinggal, pemerintah akan membangun huntara dengan biaya sekitar Rp25–30 juta per unit.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan pembangunan hunian permanen melalui relokasi ke lokasi yang lebih aman dengan bantuan Rp60 juta per unit rumah. Saat ini tercatat sebanyak 48 rumah rusak berat dan harus dibangun kembali, dengan kemungkinan jumlah bertambah sesuai hasil pendataan lanjutan.
Baca juga: Wings Air Membuka Kembali Rute Penerbangan Yogyakarta – Bandung
Langkah cepat ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan kehidupan warga terdampak serta memberikan kepastian hunian yang lebih layak dan aman.
KDM Ajak Masyarakat Kembalikan Fungsi Gunung
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengajak masyarakat untuk mengembalikan fungsi gunung sebagai “pananggeuhan” atau tempat untuk bersandar.
Gunung harus tetap menjadi penjaga ekologis alam dengan hutan di dalamnya yang harus selalu dijaga.
Hal itu disampaikan KDM, sapaan akrab Dedi Mulyadi, pada acara Pelantikan Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Barat Masa Khidmat 2025-2030 sekaligus peringatan Isra Miraj di Gedung Negara Pakuan, Selasa 27 Januari 2026, dilasir dari laman Humas Jabar.
“Saya sampaikan bahwa saat ini gunung tidak lagi menjadi pananggeuhan karena hilangnya spiritualitas pada gunung dan pada alam, manusia berani merusak bahkan sampai pada tutupan hutan,” tegas KDM.
Menurut KDM, MUI dapat ikut andil memberikan kesadaran kepada masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat pun akan membenahi tata ruang yang mendukung lingkungan.***
