Sopir Angkot Bandung Terima Kompensasi Libur Tahun Baru di GOR Sport Jabar Arcamanik

SERBA BANDUNG – Akhir tahun 2025 ini, para sopir angkot di Bandung merasakan hal yang berbeda, mereka menerima kompensasi Rp500.000 untuk dua hari libur, di GOR Sport Jabar Arcamanik, Rabu, 31 Desember 2025.
Program kompensasi ini merupakan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang diterapkan di Kota Bandung selama 31 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung, Rasdian Setiadi menjelaskan, kompensasi diberikan sebagai konsekuensi karena angkot tidak beroperasi, selama libur tahun baru 2025/2026.
“Totalnya Rp500.000 untuk dua hari. Ini sebagai konsekuensi karena angkot tidak beroperasi,” kata Rasdian.
Ia menyebutkan, dari sekitar 5.000 angkot yang terdata, terdapat kurang lebih 2.600 angkot operasional yang terverifikasi dan berhak menerima kompensasi melalui koperasi angkot.
Rasdian menyebut, kebijakan ini juga diimbangi dengan penyediaan transportasi alternatif seperti Trans Metro Bandung (TMB) di enam koridor, serta beberapa layanan pengumpan yang tetap beroperasi.
Baca juga: Sopir Angkot Peroleh Kompensasi Rp500 Ribu, untuk Libur Saat Tahun Baru
Seorang sopir angkot bernama Dadan mengungkapkan rasa senangnya, walaupun selama dua hari tidak jalan tapi dapat uang kompensasi.
“Kalau saya sih senang, ya. Enggak jalan tapi dikasih uang,” kata Dadan polos usai menerima kompensasi.
Baginya, kompensasi Rp250.000 per hari itu bahkan lebih besar dari penghasilan kotor harian yang biasa ia dapatkan.
“Sehari paling Rp150.000 sampai Rp200.000 kotor. Ini lebih dari cukup,” ujar Dadan
“Makasih banget. Dikasih libur, dikasih uang. Mudah-mudahan yang ngasih ini sehat, panjang umur, banyak rezekinya. Amin,” katanya sambil tersenyum bahagia.
Baca juga: Malam Tahun Baru 2026 di Kota Bandung Tanpa Nyalakan Petasan dan Kembang Api
Pada kesempatan yang sama, Hari, sopir angkot trayek Cicaheum–Ledeng. Dengan logat Sunda yang kental, menyampaikan rasa syukurnya atas bantuan yang diterima.
Menurut Hari, penghasilan hariannya biasanya tak jauh dari Rp150.000 setelah setoran dan bensin. Karena itu, kompensasi tersebut menjadi angin segar.
“Alhamdulillah, jadi bisa istirahat. Tahun baru kan macet, ini buat istri di rumah. Saya mau pulang kampung ke Garut selama dua hari,” ujarnya penuh kegembiraan.
Sopir trayek Stasiun Hall–Sadang Serang, bernana Hendra, juga merasakan hal yang sama. Dengan penghasilan kotor sekitar Rp200.000 per hari, kompensasi Rp250.000 dinilainya berada di atas rata-rata pendapatan harian.
“Ya, alhamdulillah buat anak istri. Rencananya langsung pulang ke Garut,” ucapnya penuh sasa syukur.***
