Replika Rumah Pohon Korowai Simbol Hubungan Manusia dengan Alam

SERBA BANDUNG – Perwakilan masyarakat Papua di Kabupaten Boven Digoel menyerahkan cenderamata kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM), berupa replika rumah pohon Korowai, usai Konferensi Tahunan Analisis Papua Strategis (APS) yang digelar di Jayapura, Papua, Jumat 29 Juni 2026.
Pemberian replika tersebut merupakan simbol penghormatan masyarakat adat Papua sekaligus pesan tentang pentingnya menjaga hutan, alam, dan keberlangsungan hidup masyarakat adat yang bergantung pada ekosistem hutan.
Franky pewakilan dari Pemkab Boven Digoel mengatakan masyarakat adat menitipkan harapan agar para pemimpin di Indonesia semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan dan keberlangsungan hidup masyarakat adat yang selama ini menjaga hutan secara turun-temurun.
Karena itu, replika rumah pohon Korowai diberikan sebagai simbol hubungan manusia dengan alam yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
“Mereka berpesan, mudah-mudahan setiap orang yang melihat dan mendengar kisah ini memahami pentingnya menjaga alam,” kata Franky.
Ia mengungkapkan bahwa mereka juga berdoa agar Kang Dedi diberikan amanah yang lebih besar untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.
Baca juga: KDM Berencana Menghapus Pajak Kendaraan Bermotor Diganti Sistem Jalan Berbayar
“Mereka berharap ada pemimpin yang mampu menjaga dan menyelamatkan hutan-hutan yang ada di Papua karena bagi mereka hutan adalah kehidupan,” ujar Franky.
Sementara itu, KDM menyebut, bahwa rumah pohon masyarakat Korowai yang selama ini dikenal sebagai bagian dari identitas budaya Papua.
“Rumah pohon Korowai itu sebenarnya sains tingkat tinggi. Mereka bisa bertahan hidup tanpa merusak ekosistem. Mereka memahami alam, memahami ancaman lingkungan, memahami cara bertahan hidup, dan itu diwariskan secara turun-temurun,” kata KDM, dilansir dari laman Humas Jabar.
Menurut KDM, pembangunan Papua tidak boleh dimulai dari anggapan bahwa masyarakat adat harus meninggalkan seluruh cara hidupnya untuk menjadi modern.
Sebaliknya, pembangunan harus mampu menghargai dan mengembangkan pengetahuan yang sudah tumbuh di tengah masyarakat.
Baca juga: Presiden Prabowo Mengganti Kepala BGN Dadan Hindayana oleh Nanik S. Deyang
“Kita sering kali melihat Papua dengan kacamata luar. Padahal masyarakat Papua memiliki cara pandang, sistem pengetahuan, dan nilai-nilai yang lahir dari lingkungan hidupnya sendiri. Itu harus menjadi bagian dari fondasi pembangunan,” imbuhnya.
KDM juga menyoroti pentingnya mengubah cara pandang terhadap masyarakat Papua. Menurutnya, kekayaan alam yang dimiliki Papua membentuk pola kehidupan masyarakat yang berbeda dengan wilayah lain yang tumbuh dalam budaya industri.
Sementara itu, Ketua APS yang juga akademisi Hubungan Internasional Universitas Cenderawasih, Laus Rumayom menyampaikan, pendekatan pembangunan di Papua tidak cukup hanya bertumpu pada aspek keamanan maupun teknokrasi semata.
Pihaknya menilai konsistensi Dedi Mulyadi dalam menjaga eksistensi kebudayaan di Jawa Barat menjadi contoh yang relevan untuk diadaptasi dalam strategi percepatan pembangunan di enam provinsi dan tujuh wilayah adat Papua.***
