Piala Dunia 2026: Pelecehan Lagu Kebangsaan Menimpa Iran

SERBA BANDUNG – Insiden pelecehan Lagu kebangsaan Iran terjadi saat pertandingan Iran melawan Belgia, Stadion SoFi, Los Angeles, Inglewood, Senin 22 Juni 2026 dini hari WIB.
Pada pertandingan yang berakhir dengan skor imbang 0-0, Lagu kebangsaan Iran sempat dicemooh oleh sebagian penonton, sebuah tindakan yang dinilai media Iran sebagai pelecehan terhadap simbol nasional dan martabat bangsa.
Penampilan Iran Piala di Dunia 2026, kerap dibayangi kontroversi seperti ini. Pemerintah Amerika Serikat juga memberlakukan kebijakan khusus, melarang tim Iran untuk tinggal di wilayah AS sebelum atau sesudah pertandingan, sebagai bagian dari sanksi politik.
Di tengah situasi ini, Timnas Iran meninggalkan catatan mengharukan di ruang ganti Stadion SoFi, Los Angeles, berbunyi: “Terima kasih Los Angeles atas keramahannya selama Piala Dunia.”
Baca juga: Jepang Singkirkan Tunisia, Menyamai Belanda di Puncak Grup F Piala Dunia 2026
“Kami fokus pada sepak bola. Meski ada tekanan politik, target kami adalah lolos ke babak gugur,” kata Pelatih Iran Amir Ghalenoei.
Sementara itu, Media Pemerintah Iran menyatakan sebagai berikut: “Hinaan terhadap lagu kebangsaan adalah pelecehan terhadap martabat bangsa.”
Laga Diberi Label “Pride match”
Usai bermain imbang kontra Belgia, Timnas Iran bersiap menghadapi Mesir dalam laga krusial Grup G pada Sabtu, 27 Juni 2026 pukul 11:00 WIB di Seattle Stadium, Amerika Serikat.
Laga ini menjadi penentu posisi puncak klasemen, pertemuan Skuad Eagles of Persia dan The Pharaohs ini akan sangat menentukan peta persaingan di Grup G.
Baca juga: Messi Cetak Hat-Trick saat Sang Juara Bertahan Meraih Kemenangan Telak atas Aljazair
Saat ini, The Pharaohs memimpin klasemen dengan tiga poin setelah berhasil menaklukkan Selandia Baru. Sedangkan, Iran berada di posisi kedua dengan dua poin, hasil imbang 0-0 saat melawan Belgia.
Namun, persiapan laga menentukan ini, dihiasi pula isu non-teknis. Laga Iran vs Mesir telah ditetapkan oleh panitia lokal Seattle sebagai laga “Pride Match”, keputusan inu mengundang protes resmi dari Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI).
Ketua FFIRI, Mehdi Taj, menyatakan keberatan bersama Mesir kepada FIFA terkait keputusan yang dianggap tidak rasional tersebut. Tekanan ini menambah kompleksitas perjalanan Iran di Piala Dunia 2026.
Pride match dalam konteks Piala Dunia 2026 antara Iran dan Mesir adalah label pertandingan yang direncanakan oleh panitia lokal di Seattle, Amerika Serikat, untuk mendukung dan merayakan komunitas LGBTQ+. Rencana ini memicu kontroversi besar karena homoseksualitas ilegal di kedua negara tersebut.***
