Serangan Darat AS ke Iran Masih Maju-Mundur, Selat Hormuz di Blokade

SERBA BANDUNG – Hingga pertengahan April 2026, wacana serangan darat AS ke Iran masih maju-mundur dan belum terjadi secara penuh, meskipun ribuan pasukan elite AS dilaporkan telah tiba di wilayah tersebut.
Serangan darat dinilai berisiko tinggi (bisa menjadi ‘misi bunuh diri’ bagi AS) karena geografis Iran yang sulit dan potensi perang berkepanjangan.
Negara Republik Islam Iran ini terletak di Asia Barat Daya, menjembatani Asia Tengah, Asia Selatan, dan Timur Tengah. Negara ini didominasi oleh dataran tinggi yang dikelilingi pegunungan terjal (Zagros dan Elburz) serta gurun, menciptakan benteng pertahanan alami.
Dengan luas 1.648.195 km², Iran memiliki lokasi strategis di utara Laut Kaspia dan selatan Teluk Persia-Teluk Oman.
Lebih dari 90% wilayahnya didominasi dataran tinggi, Pegunungan Zagros di barat dan Alborz di utara, menjadikannya negara yang sulit ditembus secara militer.
Baca juga: Konflik Syiah dan Sunni Bermula dari Perpecahan Politik Pasca Wafatnya Rasulullah SAW
Pegunungan Zagros yang curam dan gurun di bagian tengah membuat pergerakan pasukan darat sangat sulit, menjadikannya faktor penting dalam pertahanan negara ini.
Selain itu, Amerika Serikat (di bawah Donald Trump per 2026) tidak jadi menyerang Iran secara total karena risiko perang berkepanjangan yang sangat tinggi, ancaman rudal balistik Iran yang bisa menghancurkan pangkalan AS, serta potensi penutupan Selat Hormuz yang mengancam ekonomi global.
Faktor lain meliputi ketidaksiapan sekutu (Israel), stok amunisi AS yang menipis setelah konflik 2025, dan kecemasan warga AS akan harga bensin.
Pentagon pun tidak menjamin kemenangan cepat, dan perang darat dianggap terlalu berisiko dan mahal. Stok amunisi pencegat AS menipis setelah konflik sebelumnya, dan ada kelelahan prajurit. Terlebih lagi Israel tidak siap menghadapi balasan militer langsung dari Iran.
Disamping itu, Warga AS lebih khawatir dengan dampak ekonomi (kenaikan harga bensin) daripada perang di Timur Tengah.
Ancaman serangan sering kali digunakan hanya sebagai strategi untuk menaikkan daya tawar (blokade Selat Hormuz) daripada perang terbuka.
Menandai eskalasi baru dalam konflik dengan Iran, AS memberlakukan blokade laut di Selat Hormuz. Langkah ini muncul setelah perundingan antara kedua pihak di Pakistan pada Sabtu 11 April 2026 gagal mencapai kesepakatan damai.
Blokade laut adalah operasi militer untuk mencegah kapal dari negara mana pun (baik musuh maupun netral) masuk atau keluar dari wilayah tertentu yang dikuasai lawan.
Dalam praktiknya di Selat Hormuz, militer AS akan menerapkan blokade terhadap semua kapal yang menuju atau keluar dari pelabuhan Iran. Operasi ini bakal dilakukan tanpa memihak kapal dari negara tertentu.
Trump mengakui proses ini tidak instan. Menurutnya, blokade akan memakan sedikit waktu, tetapi akan segera efektif, serta menggambarkannya sebagai kebijakan ‘semua atau tidak sama sekali.’
Blokade ini ditujukan untuk menekan Iran, terutama dari sisi ekonomi. Selama perang, Iran memanfaatkan posisi geografis Selat Hormuz untuk membatasi lalu lintas kapal dan bahkan menarik biaya dari kapal yang melintas.
Baca juga: Presiden Prabowo Mengecam Keras Tindakan Keji yang Menyebabkan Gugurnya Tiga Prajurit TNI di Lebanon
Namun, blokade ini menuai perdebatan. Beberapa ahli hukum di AS menilai kebijakan tersebut berpotensi melanggar hukum maritim internasional.
Sejumlah analis menilai langkah ini juga merupakan upaya meningkatkan tekanan agar Iran bersedia mencapai kesepakatan sesuai keinginan AS.
Langkah ini juga berisiko jangka panjang, terutama terhadap stabilitas harga minyak dan gas global.
Namun, Militer Iran memperingatkan akan memblokir jalur perdagangan melalui Laut Merah, bersama dengan Teluk dan Laut Oman.
Kepala Pusat Komando Militer Iran, Ali Abdollahi, seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (15/4/2026), mengatakan AS telah melakukan pelanggaran gencatan senjata saat melanjutkan blokadenya dan menciptakan ketidakamanan bagi kapal-kapal komersial dan kapal tanker minyak Iran.
Namun, data yang ada menunjukkan bahwa beberapa kapal yang berlayar dari pelabuhan-pelabuhan Iran telah melintasi Selat Hormuz meskipun ada blokade tersebut.
Pada hari Rabu, kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan bahwa pengiriman dari pelabuhan-pelabuhan selatan Iran tetap berlanjut. Kapal-kapal komersial Iran juga dilaporkan telah berlayar ke berbagai tujuan di seluruh dunia selama 24 jam terakhir.***
