Pemerintah Bantu PLN agar Pelayanan Listrik kepada Masyarakat dapat Berjalan dengan Baik

SERBA BANDUNG – Pemadaman listrik bergilir saat ini terjadi di sejumlah wilayah Jawa dan Madura. Sejumlah pelaku usaha yang sangat bergantung pada pasokan listrik berpotensi mengalami kerugian besar akibat terhentinya operasional selama pemadaman berlangsung.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mendapat informasi adanya pelaku usaha ikan hias yang mengalami kerugian akibat banyak ikan mati saat terjadi pemadaman listrik. Padahal, menurutnya, komoditas ikan hias memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.
“Saya mendengar ada pengusaha ikan hias yang mengalami kerugian karena banyak ikan mati akibat pemadaman listrik. Padahal nilai ekonominya tinggi,” ungkapnya.
Berdasarkan pemantauan di Bandung, pemadaman listrik bergilir biasanya berlangsung dengan durasi sekitar 3 jam.
Tidak hanya di Bandung Raya, pemadaman listrik juga terjadi secara bergilir di sejumlah daerah lain di Jawa Barat seperti Bogor, Bekasi, Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, dan Cirebon.
Baca juga: Pemerintah Menunggu Proses Pembahasan RUU Perampasan Aset selesai di DPR RI
Sedangkan, aliran listrik di Jawa Timur dan Jawa Tengah berangsur pulih setelah sempat mengalami pemadaman bergilir dalam beberapa hari terakhir.
Pemadaman listrik terjadi juga di wilayah Banten secara berkala di sejumlah wilayah, termasuk Tangerang Raya (seperti wilayah Ciputat dan sekitarnya), serta wilayah Banten lainnya.
Sejumlah wilayah di Madura sempat mengalami pemadaman, seperti di Kabupaten Bangkalan dan Sumenep.
Sementara itu, PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Bali secara resmi telah memastikan bahwa informasi mengenai pemadaman total (mati lampu) selama 3 hari adalah hoaks atau kabar yang tidak benar.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengakui masalah pasokan batu bara ke PLTU menjadi biang kerok pemadaman listrik.
Sebabnya, selisih harga jual batu bara untuk kebutuhan dalam negeri dengan pasar global sangat jauh sehingga produsen cenderung enggan menjual komoditasnya kepada PLN. Sebab lain, adalah gangguan teknis pada dua unit pembangkit listrik besar milik mitra swasta.
Usai bertemu dengan Presiden Prabowo, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut bahwa
pemerintah bersama PT PLN telah melakukan evaluasi terhadap sejumlah faktor yang memengaruhi stabilitas kelistrikan.
Baca juga: Viral Video TKW Indonesia Dianiaya di Malaysia!
Bahlil menyampaikan, pemerintah telah mengambil langkah untuk membantu PLN agar pelayanan listrik kepada masyarakat dapat berjalan dengan baik. Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa pemerintah membentuk tim pengadaan batu bara untuk memastikan persoalan serupa tidak kembali terjadi.
“Total konsumsi batubara PLN kita setiap tahun itu 154 juta ton. Sementara penugasan dari Kementerian ESDM kepada perusahaan-perusahaan untuk melayani PLN itu sudah sekitar 180-190 juta ton, yang sudah dikontrak oleh PLN 134 juta ton,” kata Bahlil, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin 22 Juni 2026.
Sebenarnya, secara kontrak dengan PLN dengan pengusaha, 134 juta untuk satu tahun, sekarang kan berbulan 6, itu harusnya no issue. Ternyata yang PLN keluhkan itu, atau PLN minta itu adalah kalori yang medium untuk blending,” lanjutnya.
“Kita meminta ke PLN agar segera melakukan maintenance, agar betul-betul bisa memberikan kepastian pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.
“Menurut kami, dari pihak regulator melihat, kalau ini tidak diawasi, kita tidak mau lagi seperti ini terus. Maka saya membentuk tim, tim pengadaannya itu dari PLN, Dirjen Batubara, BPKP, Inspektur Jenderal,” tegasnya.
Terkait arahan Presiden Prabowo dalam pertemuan tersebut, Bahlil menyampaikan bahwa Presiden menginstruksikan kementerian terkait segera mengambil langkah terukur untuk memastikan pelayanan listrik kepada masyarakat tetap berjalan optimal.
“Arahan Bapak Presiden Prabowo kepada kami adalah segera memastikan untuk melakukan langkah-langkah yang terukur dalam rangka percepatan agar tidak lagi terjadi hal seperti ini,” pungkas Bahlil.***
