TPPAS Legok Nangka Ditargetkan Beroperasi Akhir 2029, Pemkot Bandung Matangkan Persiapan

SERBA BANDUNG – Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2029. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus mematangkan berbagai persiapan.
Pemkot Bandung tengah menyiapkan armada khusus pengangkut sampah, yang mampu menjangkau lokasi Legok Nangka yang memiliki kontur jalan menanjak dan cukup curam.
Salman menjelaskan, armada yang akan digunakan harus memiliki spesifikasi khusus, baik dari sisi kemampuan kendaraan maupun sistem pengangkutannya.
“Armadanya harus benar-benar fit karena akses menuju Legok Nangka cukup menanjak. Selain itu, seluruh armada diharapkan menggunakan sistem tertutup atau compactor sehingga pengangkutan lebih aman, tidak mengganggu lingkungan, dan air lindi dapat tertampung dengan baik,” ujarnya.
Saat ini, Pemkot Bandung telah memiliki sebagian armada tersebut. Namun, dalam dua hingga tiga tahun ke depan jumlahnya akan terus ditambah hingga mencapai sekitar 80 sampai 100 unit.
Selain melalui pengadaan daerah, DLH juga membuka peluang adanya dukungan armada dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui kerja sama dengan Pemerintah Belanda.
Baca juga: Buntut Penebangan Pohon di Jalan Riau, Perizinan Usaha Diperiksa
“Kami sudah memiliki sebagian armada. Ke depan akan terus ditambah. Bahkan ada rencana bantuan armada tertutup melalui Pemerintah Provinsi yang bekerja sama dengan Pemerintah Belanda,” ungkapnya.
Sembari menunggu Legok Nangka beroperasi, Pemkot Bandung tetap mengoptimalkan pengurangan sampah sejak dari sumbernya.
Berbagai upaya terus dilakukan, mulai dari edukasi pengurangan sampah rumah tangga dan kawasan komersial, pengolahan sampah organik, hingga penerapan berbagai teknologi pengolahan.
“Selama masa transisi ini, kami terus memaksimalkan pengurangan sampah di tingkat hulu, kemudian pengolahan di tingkat tengah maupun hilir. Tujuannya agar Kota Bandung semakin mandiri dalam mengelola sampah meskipun kuota ke Sarimukti masih dibatasi,” kata Salma.
Menurut Salman, langkah tersebut menjadi sangat penting mengingat kapasitas TPA Sarimukti semakin terbatas sehingga Kota Bandung tidak bisa lagi bergantung sepenuhnya pada pembuangan akhir.
Salman memastikan ketika Legok Nangka mulai beroperasi pada 2029, TPA Sarimukti akan ditutup oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Ia menjelaskan saat ini kawasan Sarimukti sudah mengalami kelebihan kapasitas, sementara zona perluasan yang sedang dimanfaatkan diperkirakan hanya mampu bertahan dalam waktu sekitar dua tahun.
Baca juga: 10 Pohon di Jalan Riau Bandung Ditebang Secara Ilegal dan Bekas Batangnya Dicor
“Kalau Legok Nangka sudah beroperasi, Sarimukti akan ditutup. Memang kondisinya sekarang sudah overload dan usia zona perluasannya juga sangat terbatas. Nantinya seluruh pengiriman sampah akan dialihkan ke Legok Nangka,” terangnya.
Pengujian Teknologi Pengolahan Sampah organik bantuan BRIN
Selain memperkuat sistem pengangkutan, DLH juga tengah menguji teknologi pengolahan sampah organik bantuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Teknologi tersebut saat ini telah ditempatkan di enam kecamatan di Kota Bandung dan akan dievaluasi efektivitasnya sebelum diperluas ke wilayah lain.
“Kami sedang mengkaji efektivitas teknologi pengolahan organik dari BRIN. Kalau hasilnya baik dan cocok diterapkan di Kota Bandung, tentu akan kami perbanyak untuk pengolahan sampah organik skala komunal,” tutur Salman
Pengelolaan Sampah Masih Relatif Terkendali
Di sisi lain, Salman menyebut kondisi pengelolaan sampah Kota Bandung saat ini masih relatif terkendali. Cuaca yang memasuki musim kemarau membuat proses pengangkutan menuju TPA Sarimukti berjalan lebih lancar.
Setiap hari sekitar 1.000 ton sampah berhasil diangkut ke Sarimukti sehingga tidak terjadi penumpukan sampah yang signifikan di tempat penampungan sementara (TPS).
“Alhamdulillah pengangkutan ke Sarimukti saat ini berjalan lancar. Timbulan sampah yang diangkut sekitar 1.000 ton per hari dan tidak ada penumpukan yang signifikan di TPS,” tandasnya.***
